Di Era Informasi seperti sekarang ini kemajuan seseorang sangat ditentukan oleh kepemilikan atas IDE-IDE BARU, METODE-METODE BARU, dan PENDEKATAN-PENDEKATAN BARU. Hal ini menjadi maklum karena: YANG PUNYA BANYAK UANG DI ERA 80an ADALAH DARI SEKTOR MANUFAKTUR dan ERA 90an ADALAH DARI BISNIS JASA, maka DI ERA MILENIUM BARU INI YANG PUNYA BANYAK UANG ADALAH PARA PEMILIK IDE.
Wednesday, October 16, 2019
JIKA ANDA INGIN PUNYA BANYAK UANG PADA ERA INFORMASI INI ANDA HARUS MEMPUNYAI IDE IDE BRILLIANT dan MEMPUNYAI LEVERAGE
Dewasa ini banyak kesempatan berwirausaha. Suatu karir kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan imbalan finansial, selain itu juga dapat menyediakan lapangan kerja baru. Untuk membangun suatu usaha, seorang wirausaha harus menilai kelayakan usaha tersebut dahulu, terlebih dari segi finansial. Hal ini dimaksudkan untuk menilai apakah usaha yang akan dibangun tersebut menguntungkan dan layak untuk dijalankan atau tidak. Metode yang sering digunakan dalam menganalisis kelayakan usaha secara finansial diantaranya metode R/C, pendapatan usaha, PBP, NPV, Net B/C, IRR, dan cashflow.
Wirausaha adalah seorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas atau seseorang yang memulai dan mengoperasikan bisnis (Longanecker, et al., 2001), sedangkan Multilevel Marketing (MLM) merupakan suatu jaringan kerja dimana seorang usahawan atau pengusaha yang independen mempunyai penjualan dari produk atau jasa (Wead, 1997). Berdasarkan pengertian tersebut, bisnis MLM dapat dikatakan sebagai salah satu kewirausahaan karena dalam pelaksanaannya, seseorang yang menanamkan investasi di bisnis MLM dapat mengoperasikan bisnisnya sendiri tanpa dikepalai oleh siapapun.
Bisnis MLM masuk ke Indonesia sekitar dua puluh tahun yang lalu (www.sinarharapan.co.id. 15/04/05). Perkembangannya di Indonesia sangat meyakinkan, ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan yang menggunakan sistem MLM muncul di Indonesia dari tahun ke tahun, seperti Amway, Herbalife, Forever Young, Tianshi, Avon, Sophie Martin, Oriflame dan Tupperware, sementara untuk MLM lokal di Indonesia terdapat nama- nama, seperti CNI, MQ-Net, Triple-S, Ahad Net dan perusahaan MLM lainnya. Seperti SAP CBO
Dalam membangun suatu usaha, dibutuhkan penelitian terlebih dahulu. Penelitian yang dimaksud yaitu penilaian kelayakan usaha. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bisnis tersebut menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan atau tidak, guna mencegah kerugian atau meminimalis kerugian.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kewirausahaan
2.1.1. Pengertian Wirausaha
Wirausaha adalah seorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas atau seseorang yang memulai dan atau mengoperasikan bisnis. (Longeneker, et al., 2001).
2.1.2. Imbalan dan Tantangan Kewirausahaan
Ketertarikan seseorang akan kewirausahaan adalah karena imbalan yang kuat, seperti keuntungan dan kebebasan. Beberapa orang khususnya tertarik hanya pada salah satu imbalan, dan yang lainnya tertarik pada berbagai kepuasan yang mungkin didapatkannya. Imbalan berwirausaha dapat dikelompokan menjadi tiga kategori dasar (Longeneker, et al., 2001) yaitu laba, kebebasan, dan kepuasan dalam menjalani hidup.
♦ Imbalan Berupa Laba
Hasil finansial dari bisnis apapun harus dapat menggantikan kerugian waktu dan dana sebelum laba yang sebenarnya dapat direalisasikan. Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya menggantikan kerugian waktu dan uang yang mereka investasikan, tapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis.
♦ Imbalan Berupa Kebebasan
Kebebasan untuk menjalankan secara bebas perusahaannya merupakan imbalan lain bagi seorang wirausaha. Kebanyakan wirausaha meninggalkan pekerjaannya di perusahaan lain untuk dapat menjadi bos atas perusahaannya sendiri. Sehingga dapat mengambil keputusan sendiri, resiko dan memiliki laba sendiri.
Imbalan Berupa Kepuasan Menjalani Hidup
Wirausaha seringkali menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Kadang beberapa orang mengatakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan merupakan suatu keceriaan. Kenikmatan yang mereka dapatkan mungkin berasal dari kebebasan.
Selain imbalan-imbalan yang didapatkan dari berwirausahaa, ada juga tantangan yang harus dihadapi oleh para wirausaha. Diantara tantang-tantangan tersebut adalah biaya yang berhubungan dengan kepemilikan bisnis atau modal. Memulai dan mengoperasikan bisnis sendiri, biasanya memerlukan kerja keras, menyita banyak waktu, dan membutuhkan kekuatan emosi. Wirausaha mengalami tekanan pribadi yang tidak menyenangkan seperti kebutuhan untuk menginvestasikan lebih banyak waktu dan tenaga. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi wirausaha dan tidak ada jaminan kesuksesan.
2.1.3. Karakteristik Wirausaha
Longenecker, et al (2001) wirausaha yang sukses memiliki beberapa karakteristik, diantaranya :
Kebutuhan akan keberhasilan
Setiap orang memiliki tingkat kebutuhan akan keberhasilan yang berbeda. Orang yang memiliki tingkat kebutuhan akan keberhasilan yang rendah, terlihat puas dengan status yang dimiliki, sedangkan orang yang memiliki tingkat kebutuhan akan keberhasilan yang tinggi senang bersaing dan memilih untuk bertanggung jawab secara pribadi atas tugas-tugas yang dibebankannya.
Keinginan untuk mengambil resiko
Resiko yang diambil wirausaha dalam memulai dan menjalankan bisnisnya berbeda-beda. Resiko keuangan terjadi saat seorang
wirausaha menginvestasikan uangnya untuk suatu usaha, resiko karir terjadi saat seorang wirausaha meninggalkan pekerjaanya guna menjalankan usaha, dan resiko waktu yang bebih banyak digunakan untuk mengoperasikan usaha.
Percaya diri
Orang yang memiliki keyakinan pada dirinya sendiri merasa dapat menjawab tantangan yang ada di depannya. Orang-orang tersebut mempunyai pemahaman atas segala jenis masalah yang akan muncul. Wirausaha yang mempercayai bahwa kesuksesan tergantung pada usaha diri sendiri mempunyai pengendalian yang disebut Internal Locus of Control ( kepercayaan bahwa kesuksesan seseorang tergantung pada usahanya), sebaliknya wirausaha yang merasa bahwa hidup dikendalikan oleh nasib atau keberuntungan mempunyai pengendalian yang disebut External Locus of Control (kepercayaan).
Keinginan kuat untuk berbisnis
Wirausaha memperhatikan tingkat keingintahuannya yang dapat disebut sebagai keinginan kuat untuk berbisnis dengan tujuan apapun, menciptakan ketabahan dan keamanan untuk bekerja keras.
2.2. Direct Selling
Direct Selling atau penjualan langsung adalah cara memasarkan
produk maupun jasa langsung kepada pelanggan, yaitu secara temu muka. Temu muka ini umumnya berlangsung di rumah pelanggan, di rumah teman, atau di tempat lain di luar lokasi pengecer (www. Amway.co.id/directsale.asp. 24/02/05). Direct Selling mempunyai tiga tipe dasar, yaitu One On One, Party Plan, dan MLM.
• One On One
Dalam sistem ini, seorang penjual yang merupakan agen/anggota/kontraktor yang mandiri atau lepas, menarik konsumen yang berpotensi di area khusus berdasarkan pendekatan orang ke orang. Mereka
menawarkan produk dan juga mendapat komisi atau basis lain. Pendapatan mereka juga diperoleh dari selisih harga pembelian dari pemasok dan penjualan ke konsumen.
Party Plan
Pada metode ini seorang penjual, karyawan lepas atau tetap, bertugas mencari atau menjadi tuan rumah yang mengundang sekelompok orang di rumahnya dalam rangka sales party untuk mendemonstrasikan produk. Penghasilan si penjual atas dasar selisih harga eceran.
Multilevel Marketing
Multilevel Marketing adalah penjualan secara bertingkat, dimana distributor mandiri mempunyai penghasilan dalam dua cara. Pertama, penjualan produk langsung ke konsumen, keuntungan didapatkan atas dasar selisih antara harga distributor dan harga konsumen. Kedua, potongan harga atas dasar jumlah produk atau jasa yang dibeli oleh anggota kelompok bisnis untuk penjualan atau pemakaian, termasuk jumlah penjualan pribadi.
2.3. Multilevel Marketing
Kishel (1992) mendefinisikan MLM sebagai metode penjualan di mana
konsumen mempunyai kesempatan untuk menjadi distributor pabrik yang dapat membangun jaringan atau level dibawahnya. Setiap level akan berbagi keuntungan pada level-level di atasnya.
Tracy (2005) menyatakan MLM adalah gambaran jenis pemasaran lainnya karena sebuah perusahaan MLM adalah salah satu ragam pemasaran tertentu dan rancangan kompensasinya melibatkan sejumlah tingkat pengorganisasian kelompok dan pembayaran komisi, serta dapat menerapkan segala metode penjualan.
Wead (1997) Network Marketing atau MLM adalah suatu jaringan kerja dimana seorang usahawan atau pengusaha yang independen mempunyai penjualan dari suatu produk atau jasa. Selain dari hak penjualan, mereka juga dapat menpromosikan atau memasukkan orang lain ke dalam kelompoknya.
Dengan kata lain, MLM dapat diartikan sebagai sistem penjualan secara langsung kepada konsumen yang dilakukan secara berantai, dimana seorang konsumen dapat menjadi distributor produk dan dapat mempromosikan orang lain untuk bergabung dengan dalam rangka memperluas jaringan distributornya.
Dalam rangkaian distributor terdapat istilah ”Upline” dan ”Downline”. Upline adalah distributor tingkat pertama yang mempromosikan distributor tingkat kedua. Sedangkan Downline adalah pihak yang disponsori oleh distributor tingkat pertama. Downline juga dapat menjadi Upline bagi orang lain dengan membangun jaringan baru di bawahnya dengan mensponsori orang lain ke dalam kelompoknya dan demikian seterusnya. (Kishel, 1992)
MLM lebih memanfaatkan “kekuatan manusia” daripada institusi ritel dan lainnya, untuk mempromosikan dan menjual barang atau jasa. MLM juga menitikberatkan pada kekuatan kontak pribadi dan persuasif dalam penjualan, dimana si penjual berfungsi lebih dari sekedar seorang juru tulis yang mencatat hasil penjualan.
MLM berbeda dengan sistem penjualan lainnya. Dalam bisnis MLM, distributor multilevel tidak hanya berusaha menjual barang kepada konsumen secara eceran, tetapi juga mencari distributor lain untuk menjual barang atau jasa kepada konsumen. Karakteristik lain yang menjadi ciri pembeda bisnis MLM adalah penjual, biasanya disebut distributor, merupakan seorang kontraktor bebas yang bisa menjual dimana saja, kapan saja, meskipun harus tunduk pada acuan perusahaan berkenaan dengan iklan maupun cara menjual produk.
Program-program MLM telah mengalami peningkatan terus-menerus sejak tahun 1980-an, dikarenakan bisnis MLM menawarkan peluang memperoleh pendapatan yang tinggi melalui prinsip-prinsip penggandaan usaha. Seseorang dapat menciptakan sebuah organisasi sebagai wahana dalam memasarkan produk dan jasa. Penghasilan didasarkan pada apa yang diperoleh anggota tim maupun usaha sendiri. Proses pengembangan organisasi ini mengandung makna bahwa seseorang memerankan satu peran penting
dalam membantu distributor mencapai kesuksesan, dengan mengerjakan apa yang harus dilakukan. Prinsip pokok MLM adalah bahwa seseorang akan berhasil jika membantu orang lain meraih keberhasilan juga.
2.4. Kelebihan-kelebihan Bisnis MLM
Bisnis MLM berkembang dengan cukup pesat karena memiliki sejumlah kelebihan bagi orang yang ingin terjun kedalam bisnis ini. Rata-rata kelebihan tersebut terletak pada bentuk penjualan langsung, sedang beberapa di antaranya pada bisnis itu sendiri.
Yusuf (2002) mengungkapkan beberapa kelebihan yang dimiliki oleh bisnis MLM yaitu diantaranya:
(1) (2) (3) (4)
(5) (6) (7) (8) (9)
Setiap orang dapat melakukannya; Nyaris tanpa resiko;
Tidak ada atasan;
Pelatihan nasional dan bantuan dari perusahaan yang diberikan dalam bentuk buku pegangan, seminar dan rapat;
Waktu yang diinvestasikan sekarang untuk berguna dikemudian hari; Rasa aman karena ada sistem pembagian bonus dan royalti ahli warisnya;
Bisnis siap pakai dan siap dijalankan;
Tidak ada wilayah yang membatasi daerah operasi para distributor;
Modal yang diperlukan untuk memulai bisnis sangat kecil yaitu hanya
membayar formulir pendaftaran dan produk perusahaan;
(10) Mendapatkan penghasilan sesuai dengan penjualan dan pembinaan
jaringan yang dikembangkan.
Selain disebutkan di atas, bisnis MLM masih mempunyai beberapa
kelebihan lainnya yang menjadi kekuatan bisnis ini untuk berkembang. Seperti yang dikemukakan oleh Tracy (2005) dalam bukunya: MLM Sukses. Bisnis MLM memberikan kebebasan dan keuntungan pajak yang abadi di dalamnya. Bisnis ini dapat digunakan sebagai perlindungan pajak untuk mengurangi pajak pendapatan karena bisnis ini mengurangi pajak berbagai barang, seperti perangkat rumah dan peralatan yang dipakai dalam bisnis. Biaya tambahan untuk bisnis ini hanya sedikit karena dapat dijalankan di rumah sendiri, tidak perlu membangun kantor sendiri atau menyewa tempat. Tidak perlu menimbun barang apapun. Cocok bagi suami-istri maupun sebuah keluarga karena dikerjakan di rumah dan bekerja bersama-sama. Bisnis ini memberikan peluang dalam melakukan perjalanan yang menyenangkan, berkenalan dengan teman-teman baru dan pengalaman belajar yang positif.
Dilihat dari segi finansial, bisnis MLM menawarkan suatu penghasilan yang sangat menarik dibandingkan dengan bisnis atau pekerjaan lain, misalnya waralaba atau bekerja pada suatu perusahaan. Bila dikerjakan dengan benar, bisnis ini menawarkan peluang peningkatan penghasilan maupun volume usaha yang dapat meningkat secara eksponensial.
Perbandingan penghasilan antara pilihan menjadi karyawan dengan pilihan menjalankan bisnis Amway dapat diilustrasikan sebagai berikut: Pertama, sebuah pekerjaan dengan penghasilan Rp 10.000.000,- per bulan. Kedua, sebuah usaha yang menghasilkan Rp 1,- pada bulan pertama, tetapi hasil tersebut akan berlipat ganda dua kali lipat setiap bulannya. Jika kedua pilihan tersebut dihitung dengan masa selama 36 bulan, maka hasilnya seperti
Subscribe to:
Posts (Atom)





























































































































